Konflik yang terjadi di KBIH NU Widasari bukan sekadar persaingan internal atau perebutan legitimasi sosial-keagamaan. Dinamika ini mencerminkan kompleksitas kelembagaan Islam lokal, sekaligus membuka ruang refleksi tentang bagaimana organisasi keagamaan menghadapi tantangan kepemimpinan, distribusi peran, dan konsistensi khidmah.
Kepergian KH. Zuhadi Abdullah pada 9 November 2023 meninggalkan duka mendalam bagi warga NU Widasari. Ulama karismatik ini dikenal sebagai tokoh sentral yang mengabdikan tenaga, pikiran, bahkan harta demi kemajuan NU. Salah satu pengabdian monumental beliau adalah wakaf tanah untuk pembangunan Gedung KBIHU NU di Cideng, yang menjadi amal jariyah hingga kini.
Pergantian Kepemimpinan dan Munculnya Benih Konflik
Pasca wafatnya KH. Zuhadi, kepemimpinan KBIHU NU Widasari sempat dipegang KH. Ischaq Sholichin, lalu beralih kepada KH. Mustahdi Abdullah. Pada masa inilah muncul gagasan sebagian pengurus untuk membentuk lembaga baru bernama KBIH Makarimil Ahlak, dengan alasan kuota pembimbing haji dan kontribusi finansial yang dianggap terlalu besar kepada PCNU Indramayu.
Ketua MWC NU Widasari, M. Abdul Jamal, menanggapi dengan hati-hati. Ia menegaskan bahwa pembentukan KBIH baru berpotensi menimbulkan konflik serius, mengingat KBIHU NU berada langsung di bawah naungan PCNU Indramayu.
Sementara itu ketua PWNU Jawa Barat, KH. Juhadi Muhammad saat di temui memberikan pandangan dan menolak tegas rencana pembentukan KBIH baru di kecamatan widasari. Ia menekankan bahwa KBIHU NU Widasari adalah hasil perjuangan panjang KH. Zuhadi Abdullah bersama tokoh NU lainnya, sehingga langkah keluar dari KBIHU NU dianggap tidak sejalan dengan semangat perjuangan pendiri.
Kepengurusan Baru dan Islah
Pada November 2024, kepengurusan baru KBIHU NU Widasari resmi dibentuk dengan KH. M. Nuruddin Sayuthi sebagai ketua. Namun, ketegangan tetap terasa karena sebagian pengurus lama menilai adanya perebutan jabatan.
Proses islah kemudian digelar, menghasilkan kesepakatan bahwa KBIH Makarimil Ahlak tetap berada dalam naungan NU dan menggunakan nama KBIHU NU Widasari. Surat perjanjian resmi ditandatangani, menegaskan komitmen persatuan.
Dinamika Pasca Islah
Meski perdamaian tercapai, dinamika baru muncul ketika Kanwil Kemenag Jawa Barat menerbitkan izin operasional atas nama KBIH Makarimil Ahlak pada Juli 2025. Hal ini menimbulkan kegelisahan karena berpotensi menimbulkan dualisme kelembagaan.
Ketua PCNU Indramayu kemudian meminta pembentukan kepengurusan baru KBIHU NU Widasari agar organisasi tetap berjalan sesuai aturan. Konsolidasi dilakukan dengan menempatkan sekretariat di Masjid Fathillah Widasari, lokasi historis berdirinya KBIH Annahdliyah, sebagai simbol “mulih asal” atau kembali ke akar sejarah.
Tantangan dan Harapan
Meski sempat hanya menjaring tiga jamaah haji pada tahun 2026, semangat pengurus baru tidak surut. Renovasi sekretariat, penataan manasik, dan penguatan identitas kelembagaan terus dilakukan.
Tulisan ini menegaskan bahwa konflik KBIHU NU Widasari bukan sekadar soal teknis, melainkan menyangkut legitimasi, kepemimpinan, dan konsistensi khidmah. Upaya rekonsiliasi menunjukkan bahwa persaudaraan dan keikhlasan mampu mengakhiri perselisihan. Ke depan, KBIHU NU Widasari diharapkan kembali fokus pada tujuan utamanya: membimbing jamaah haji menuju ibadah mabrur, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan menjaga marwah NU sebagai organisasi yang berkhidmah bagi umat.
Tags:
News
